'Dua pulu dua Desember Dua ribu sebelas', tercatat dan insya Allah akan selalu tercata
diotaknya.

      Malam sebelum tanggal itu, ia berusaha menggerakkan kaki dan seluruh anggota badannya untuk ke 'surganya'. ia merogoh koceknya, hmm.. "uang yang pas-pasan" dalam hati. akhirnya tanpa pikir panjang terpaksa ia pinjam ke teman sekamarnya. lelah yang sangat pun juga ia korbankan. ah, tapi ia tak peduli dengan semua masalah itu, toh nanti akan ia kembalikan uangnya dan letihnya akan terbalas ketika bertemu dengan 'seseorang' di 'surganya'. ia harus berangkat dari 'gudang amanah'nya. tempat yang akhir-akhir ini menjadi pusat perhatiannya, karena begitu banyaknya amanah yang ia harus emban. tapi kali ini, hari ini, saat ini cukup hentikan sejenak amanah-amanah itu. dirinya sangat ingin bertemu dengan 'seseorang' itu di surganya. ia ingin kembali ke surganya. ya, surganya. rumah dimana ia dibina, dibimbing, diasuh, dan di-segalanya oleh 'seseorang' itu. disanalah surga dunianya yang tak kan pernah hilang dalam ingatan.

      sesaat meninggalkan 'gudang amanah'. 'seseorang' tiba-tiba menelponnya. suara itu, tak asing ditelinganya. suara teman kecilnya, hingga sekarang masih lekat di degup jantungnya. "sms ga pernah, nelpon ga pernah, maunya apa?' ia tertawa dalam hati. suara itu terdengar seperti guyonan salah satu produk kartu seluler di iklan televisi. tapi tunggu, suara itu, ucapan itu. menyentuh hatinya. ia perlahan menyadari, meskipun
memang guyonan. tapi, tidak baginya, itu sebuah peringatan. kemana saja ia selama sebulan terkahir ini. lupakah ia dengan segala pembinaan, pengasuhan, tangan lembut, nyanyian, timangan yang selalu menemani ia melepas sepi?,

      tidak, ia tidak akan pernah melupakannya. tidak boleh. makannya ia bertekad mengganti semua itu di malam ini. berharap cepat datang menyambut 'seseorang' itu. memeluknya, menciumnya, menyanjungnya, dan me-yang istimewa lainnya untuknya. dan di tengah perjalanannya itu ia tertidur pulas di dalam angkutan umum. "bermimpi tentang sebuah persembahan untuk 'seseorang'

      hari ini, tanggal dua puluh dua desember dua ribu sebelas. tepat tanggal itu. tanggal yang ia tunggu. ia tau tanggal itu adalah tanggal yang tepat untuk membalas secuil balas budinya pada 'seseorang'. "tanggal yang sangat pas..!!" dalam hatinya bersemangat. pagi itu, ia langsung sms ke abi dan kakaknya.

"bi, mba. lagi ada duit ga?. beli eskrim ya nanti pas pulang. buat umi. kan sekarang hari ibu. umi suka banget es-krim soalnya." tulisnya dalam sms yang ia ketik dan langsung secepatnya ia kirim ke mereka.

secepatnya juga ia panggil adik-adiknya untuk berkumpul dan merumuskan kejutan untuk 'seseorang' itu. semangat, semangat dan hanya semangat yang sekarang ada dalam dirinya. semangat untuk membalas secuil budinya untuk 'seseorang'. konsep itu sangatlah sempurna. malam itu, disaat lengkap mereka sudah berkumpul semua. mereka, orang-orang penting dalam hidupnya. mereka, abi, kakaknya, adik-adiknya, dan tak lupa 'sesorang' itu. mereka yang tampak dalam matanya orang-orang yang bersahaja. 'sesorang' itu yang dengan guratan tampak dimukanya tetap tersenyum untuk mukanya. ah, sungguh tak terbalaskan. entah
untuk yang keberapa kali senyum itu diperuntukkan kepadanya. ia dan mereka kecuali 'seseorang' sudah siap dengan rencana-rencananya.

     "mas, umi mau nasi goreng dong.., tapi bikinan mas. sedeng ya pedesnya, terus telornya di dadar" 'seseorang'  itu dengan lembut secara tidak langsung meminta secuil balas budinya darinya. ia ingat semangatnya, semangat untuk mempersembahkan untuknya di hari yang tepat ini. "Hari ibu, ini hari ibu" gumamnya dalam hati. tanpa pikir panjang ia langsung mengerjakan ke dapur membuat nasi goreng bikinannya. nasi goreng yang ia hidangkan untuk makan malam itu, dan nasi goreng yang ia persembahkan
khusus kepada 'seseorang' yang meminta dengan tulus. tidak lewat sejam, ia sudah menyelesaikan pekerjaan di dapur, membuat nasi goreng. dan dengan cepat ia hidangkan untuk mereka dan untuk 'seseorang'.

     ia tak lupa dengan kejutannya. maka, ketika mereka semua sedang menikmati nasi gorengnya. dengan komandonya kepada adik-adik, kakak, dan abinya. semua sontak langsung mengagetkan 'seseorang' itu. "SELAMAT HARI IBU, UMMI...". tanpa sadar air matanya jatuh. ia langsung memberikan es-krim yang tadi dibeli abi. dengan hati, perasaan yang bercampur aduk "selamat hari ibu, ummi. maafin mas ya kalo akhir, akhir ini mas jarang ngasih kabar, mas nyakitin ummi, bikin susah ummi, jarang bantuin ummi,
pokoknya maafin mas ya mi.." ucapnya lirih, menangis, memeluknya erat, menciumnya erat. diikuti kakak, adik-adik, dan abi yang juga meminta maaf kepada 'seseorang' yang hari ini, detik ini membutanya menetikkan air matanya untuk kesekian kali. ya, 'seseorang' itu adalah ummi. ummi langsung menggenggam es-krim yang ia berikan. juga dengan air mata yang mengalir melewati garis-guratan tanda umur yang sudah beranjak
lanjut. malam itu, mereka semua mengenang hari itu untuk selamanya. malam itu menjadi saksi mereka, saksi atas rasa balas budi yang ingin mereka berikan pada ummi meski secuil.. ah, air matanya tidak dapat dibendung, terus menerus mengalir, memeluknya erat, menciumnya beberapa kali, dan berdo'a untuknya. juga dengan adik dan kakanya yang melakukan hal sepertinya.

      ummi berucap kepadanya "mas, umi udah maafin mas koq, umi ngerti koq kenapa mas jarang pulang, umi rela koq anak umi berjuang untuk-Nya." air matanya terus mengalir, begitu juga dengan air mata umi. "umi juga minta maaf ya ke mas, ke mba imah, ke mas roki, mas farid, ke sofia, ke abi sayangku. maafin umi ya klo umi banyak salah?, umi akan terus doain anak-anak umi kelak jadi anak yang bermanfaat, al-hafidz,
berprestasi, dan anak sholeh dan sholehah" air matanya bercucuran makin deras. ummi, sungguh tiada kata yang bisa terucap dari mulut ini. dengan pengorbanannya yang seharusnya sudah tinggal mendapat balas budi dari anaknya. tapi, ucapan maaf dan do'a tidak pernah terputus terucap dari mulutnya. ah, ummi memeluknya, memeluk anaknya satu persatu. dengan air mata menghiasi pipinya yang keriput. sempurna, malam itu
sempurna jadi malam muhasabah mereka sang anak kepada umminya.. "thanks a lot ummi, jazakillah ummi, syukron jiddan ummi" ucapan terakhirnya terucap sembari mencium ummi sebelum ia terbangun dari tidurnya di dalam angkot. kenangan yang seharusnya menjadi kenyataan keesokan harinya.

     "mimpi?, hanya mimpi?, tapi mengapa air mata ini sungguhan?" gumamnya dalam hati. ia terus mengingat kejadian mimpinya, ingin cepat rasanya ia berada di 'surganya' dan memeluk umminya seperti di mimpinya tadi. angkot yang ia naiki seakan-akan mengerti apa yang ia inginkan. dengan kecepatan tinggi angkotnya melaju. dan dengan kecepatan tinggi juga angkot dari lawan arah menghantam angkot yang ia naiki. kejadian
itu begitu cepat, ia tak bisa membayangkan apapun kecuali kenangan di mimpi tadi, kenangan bersama ummi dan mereka. kenangan yang sangat melekat erat dan takkan pernah terlupakan. kenangan yang membuatnya sekarang masih bisa meneteskan air matanya ditengah keadaanya yang sekarat.

      "ummi, ummi, ummi, mas sayang sama ummi. mas sayang sama ummi, mas sayang sama abi, mas sayang sama mba imah, mas sayang sama roki, mas sayang sama farid, mas sayang sama sofi" ucapnya lirih menahan sakit yang teramat. "ummi,.. selamat hari ibu.., maafin mas," ucapnya lagi sangat lirih dari yang pertama, sebelum semuanya gelap dimatanya. hilang, lenyap, dan detak jantungnya pun berhenti.

Dear ummi: dari anakmu yang selalu menyayangimu..
(penandai langit)

Pengikut

dani. Diberdayakan oleh Blogger.